Selasa, 01 Oktober 2013

Resensi

Resensi adalah suatu tulisan atau ulasan mengenai nilai sebuah hasil karya, baik itu buku, novel, majalah, komik, film, kaset, CD, VCD, maupun DVD.
Tujuan resensi adalah menyampaikan kepada para pembaca apakah sebuah buku atau hasil karya itu patut mendapat sambutan dari masyarakat atau tidak. Yang akan kita bahas pada buku ini adalah resensi buku. Resensi buku adalah ulasan sebuah buku yang di dalamnya terdapat data-data buku, sinopsis buku, bahasan buku, atau kritikan terhadap buku.
Daniel Samad (1997: 7-8) menyebutkan unsur-unsur resensi adalah sebagai berikut:

1.      Membuat judul resensi
Judul resensi yang menarik dan benar-benar menjiwai seluruh tulisan atau inti tulisan, tidakharus ditetapkan terlebih dahulu. Judul dapat dibuat sesudah resensi selesai. Yang perlu diingat, judul resensi selaras dengan keseluruhan isi resensi.

2.      Menyusun data buku
Data buku biasanya disusun sebagai berikut:
·         Judul buku (Apakah buku itu termasuk buku hasil terjemahan. Kalau demikian, tuliskan judul aslinya.);
·         Pengarang (Kalau ada, tulislah juga penerjemah, editor, atau penyunting seperti yang tertera pada buku.);
·         Penerbit;
·         Tahun terbit beserta cetakannya (cetakan ke berapa);
·         Tebal buku;
·         Harga buku (jika diperlukan).

3.      Membuat pembukaan
Pembukaan dapat dimulai dengan hal-hal berikut ini:
·         Memperkenalkan siapa pengarangnya, karyanya berbentuk apa saja, dan prestasi apa saja yang diperoleh;
·         Membandingkan dengan buku sejenis yang sudah ditulis, baik oleh pengarang sendiri maupun oleh pengarang lain;
·         Memaparkan kekhasan atau sosok pengarang;
·         Memaparkan keunikan buku;
·         Merumuskan tema buku;
·         Mengungkapkan kritik terhadap kelemahan buku;
·         Mengungkapkan kesan terhadap buku;
·         Memperkenalkan penerbit;
·         Mengajukan pertanyaan;
·         Membuka dialog.

4.      Tubuh atau isi pernyataan resensi buku
Tubuh atau isi pernyataan resensi biasanya memuat hal-hal di bawah ini:
a.       sinopsis atau isi buku secara bernas dan kronologis;
b.      ulasan singkat buku dengan kutipan secukupnya;
c.       keunggulan buku;
d.      kelemahan buku;
e.       rumusan kerangka buku;
f.       tinjauan bahasa (mudah atau berbelit-belit);
g.      adanya kesalahan cetak.



Sumber :


Resensi Buku
Judul buku      : Attitude Plus!
Penulis             : Tony Christiansen
Penerbit           : PT Bhuana Ilmu Populer
Tahun Terbit    : April 2005
Tebal buku      : X +246 hlm, 20,9 x 13,8 cm

Sebagai akibat kecelakaan saya, dari awal sekali saya menemukan bahwa kita mempunyai pilihan apa yang akan kita lakukan dalam hidup. Kita bisa saja duduk-duduk dan mengasihani diri sendiri serta menunggu datangnya waktu yang tepat, atau kita bisa aktif dan menciptakan banyak sesuatu. Banyak orang berfikir mereka tidak mempunyai pilihan, bahwa “begini saja sudah bagus”. Omong kosong! Akan jauh lebih baik jika kita memiliki pilihan, karena pilihan akan membuat anda percayakepada diri sendiri dan memberi anda tujuan yang ingin anda capai. Lihatlah saya, saya tidak memiliki kaki dan saya masih menganggap diri saya orang terkaya. Saya berbicara uang disini. Saya menunjuk pada pilihan-pilihan yang saya miliki dalam hidup karena sikap dan rasa percaya diri yang saya miliki. Saya terinspirasi oleh kehidupan dan semua yang ditawarkannya, dan kehidupan itu sendirimemberi saya pilihan (hal.78).


“Attitude Plus!” adalah merupakan salah satu buku yang tepat untuk anda baca, terutama untuk motivasi di kehidupan anda. Bahwa si pengarang menceritakan di kehidupannya yang amat sulit baginya. Tetapi, karena ia mau berusaha dan tidak menyerah. Akhirnya, ia dapat melewati masa-masa yang sulit. Baginya, bukan suatu halangan jika seseorang yang tidak sempurna (cacat) tidak bisa meraih segala kesuksesan. Seorang Tony Christiansen sudah membuktikannya, walapun dia seseorang yang tidak mempunyai kaki tetapi bisa meraih impiannya sekalipun itu memanjat gunung Kilimanjaro.

Penalaran Deduktif

Apa itu Penalaran Deduktif ?

Sebelumnya, Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian.
Penalaran deduktif adalah suatu penalaran yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus. Metode ini diawali dari pebentukan teori, hipotesis, definisi operasional, instrumen dan operasionalisasi.

Contoh: Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus) dan kegiatan imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status sosial.
Penarikan kesimpulan deduktif dibagi menjadi dua, yaitu penarikan langsung dan tidak langsung.

1.      Penarikan simpulan secara langsung
Simpulan secara langsung adalah penarikan simpulan yang ditarik dari satu premis. Premis yaitu prosisi tempat menarik simpulan.
Simpulan secara langsung:
1.      Semua S adalah P. (premis)
Sebagian P adalah S. (simpulan)
Contoh: Semua manusia mempunyai rambut. (premis)
               Sebagian yang mempunyai rambut adalah manusia. (simpulan)

2.      Semua S adalah P. (premis)
Tidak satu pun S adalah tak-P. (simpulan)
Contoh: Semua pistol adalah senjata berbahaya. (premis)
  Tidak satu pun pistol adalah senjata tidak berbahaya. (simpulan)

3.      Tidak satu pun S adalah P. (premis)
Semua S adalah tak-P. (simpulan)

Contoh: Tidak seekor pun gajah adalah jerapah. (premis)
               Semua gajah adalah bukan jerapah. (simpulan)

4.      Semua S adalah P. (premis)
Tidak satu-pun S adalah tak P. (simpulan)
Tidak satu-pun tak P adalah S. (simpulan)

Contoh: Semua kucing adalah berbulu. (premis)
               Tidak satu pun kucing adalah takberbulu. (simpulan)
               Tidak satupun yang takberbulu adalah kucing. (simpulan)
  
2.      Penarikan simpulan secara tidak langsung
Untuk penarikan simpulan secara tidak langsung diperlukan dua premis sebagai data. Dari dua premis tersebut akan menghasilkan sebuah simpulan. Premis yang pertama adalah premis yang bersifat umum dan premis yang kedua adalah premis yang bersifat khusus.
Jenis penalaran deduksi dengan penarikan simpulan tidak langsung, yaitu:
1.      Silogisme
Silogisme adalah suatu proses penarikan kesimpulan secara deduktif. Silogisme disusun dari dua proposi (pernyataan) dan sebuah konklusi (kesimpulan).
Contohnya:
-          Semua manusia akan mati
Ani adalah manusia
Jadi, Ani akan mati. (simpulan)
-          Semua manusia bijaksana
Semua dosen adalah manusia
Jadi, semua dosen bijaksana. (simpulan)
2.       Entimen
Entimen adalah penalaran deduksi secara tidak langsung. Dan dapat dikatakan silogisme premisnya dihilangkan atau tidak diucapkan karena sudah sama-sama diketahui.
Contohnya :
-          Proses fotosintesis memerlukan sinar matahari
Pada malam hari tidak ada sinar matahari
Pada malam hari tidak mungkin ada proses fotosintesis.
-          Semua ilmuwan adalah orang cerdas
Anto adalah seorang ilmuwan.
Jadi, Anto adalah orang cerdas.
Jadi, dengan demikian silogisme dapat dijadikan entimen. Sebaliknya, entimen   juga dapat dijadikan silogisme.
3.      Salah Nalar
Salah nalar adalah gagasan, perkiraan atau simpulan yang keliru atau sesat. Pada salah nalar kita tidak mengikuti tata cara pemikiran dengan tepat.
Jenis – Jenis Salah Nalar
1.      Deduksi yang Salah
2.      Generalisasi yang Terlalu Luas
3.      Pemikiran ‘atau ini, atau itu’
4.      Salah Nilai atas Penyebaban
5.      Analogi yang Salah
6.      Penyimpangan Masalah
7.      Pembenaran Masalah Lewat Pokok Sampingan
8.      Argumentasi ad hominem
9.      Imbauan pada Keahlian yang Disangsikan
10.  Non Sequitur
  Kesalah nalar ada dua macam:
1.      Kesalahan nalar induktif, berupa :
·         kesalahan karena generalisasi yang terlalu luas,
·          kesalahan penilaian hubungan sebab-akibat,
·         kesalahan analogi.
2.      Kesalahan deduktif dapat disebabkan :
·         kesalahan karena premis mayor tidak dibatasi;
·         kesalahan karena adanya term keempat;
·         kesalahan karena kesimpulan terlalu luas/tidak dibatasi; dan
·         kesalahan karena adanya 2 premis negatif.
Fakta atau data yang akan dinalar itu boleh benar dan boleh tidak benar.
4.      Deduksi yang Salah
Salah nalar  yang amat lazim ialah simpulan yang salah dalam silogisme yang berpremis salah atau yang berpremis yang tidak memenuhi syarat.
Contohnya: Pengiriman manusia ke bulan hanya penghamburan. ( Premisnya: Semua eksperimen ke angkasa luar hanya penghamburan).



Sumber :
http://bungamahasiswa.blogspot.com/2012/11/pengertian-karangan-ilmiahsilogismesala.html